Sabtu, 11 Februari 2012
Sisi Gelap Teknologi
Jumat, 29 Juli 2011
"Virus" dalam Film
Kecerdasan dalam menyikapi film, inilah yang kita butuhkan untuk membentengi diri sendiri agar tidak terinfeksi “virus” dalam film. Kita harus bisa menyaring setiap yang kita tonton atau yang masuk dalam fikiran.
Minggu, 03 Juli 2011
Terpaksa Kabur Setelah Rumahnya Dikepung 1000 Pengguna Facebook

Jumat, 22 April 2011
Simbol Baru yang Lebih Bermartabat
Di internal kampus, birokrasi tidak lagi berjalan dengan baik. Seringkali mahasiswa mengeluh setelah berurusan dengan bagian akademik. Persoalannya hanya dua; pelayanan yang kurang baik dan sistem yang tidak bagus. Sebuah contoh kecil saat proses pendaftaran ulang mahasiswa. Ratusan mahasiswa berdesakan bercampur antara laki-laki dan perempuan. Padahal, di gerbang kampus tertulis jalur khusus untuk laki-laki dan perempuan. Ini menandakan laki-laki dan perempuan tidak boleh berjalan berdampingan. Tapi kenapa saat proses daftar ulang mahasiswa tidak dibentuk jalur khusus pula. Sedangkan mahasiswa lebih butuh jalur khusus saat melakukan pendaftaran ulang dari pada jalur khusus masuk kampus. Setelah antre beberapa jam dengan keringat membasahi tubuh, merekapun tak mendapatkan layanan yang baik bahkan ada yang dibentak.
Ini baru contoh kecil dari simbol yang ditinggalkan alam terhadap kampus Islami. Belum lagi masalah lainnya seperti polemik uang peningkatan kualitas akademik, persoalan nilai mahasiswa, seluruh ketua jurusan yang mogok, dan nasib eks mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) yang terkatung-katung karena jurusan mereka tidak ada izin untuk beroperasi. Bahkan, mereka yang telah selesai skripsinya hanya bisa mengurut dada karena tidak jadi diwisuda. Mahasiswa gelisah, mereka pun dipindahkan ke Fakultas Tarbiyah. Proses transfer ini pun tidak berjalan dengan baik. Seorang teman bercerita kepada saya tentang kepahitan hidupnya di kampung. Tapi lebih pahit saat mendapatkan kata-kata yang tidak enak saat mengurus transfernya ke Fakultas Tarbiyah, ”Istirahat se lah kuliah lai”. Padahal, ini bukanlah kesalahan mahasiswa, mereka adalah korban.
Sedangkan di eksternal kampus, IAIN mempunyai citra yang kurang bagus di mata masyarakat. Sering tidak tanggap terhadap isu-isu yang melanda Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Seperti polemik Ahmadiyah, IAIN tidak begitu tanggap terhadap persoalan ini. Sebagai PTAI terbesar di Sumatera Barat, seharusnya IAIN bisa meluruskan persoalan yang berkaitan dengan Islam. Supaya tidak ada lagi keresahan masyarakat Sumatera Barat yang umunya beragama Islam. Hal ini tentu tidak terlepas dari apa yang terjadi di internal kampus yang berdampak kepada eksternalnya. Kalau di dalam sudah sakit tentu saja wajah akan kusam dan pucat. Retaknya gedung rektorat meninggalkan ”bekas” terhadap kepemimpinan di kampus IAIN Imam Bonjol.
Walaupun masjid kampus masih digunakan sebagaimana layaknya tempat ibadah, namun rasa khawatir masih terbesit ketika berada dalam bangunan yang retak akibat gempa 30S lalu. Ditambah lagi dengan keadaan tempat berwudhu’ yang kotor dan bau pesing membuat kita tidak nyaman.
Di sisi lain, sikap dan tingkah laku mahasiswa apalagi karyawan tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Seperti pertengkaran mulut antara mahasiswa dan karyawan dalam urusan birokrasi bahkan ada yang berakhir dengan adu otot. Sangat ironis hal demikian terjadi di kampus yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Moral di kampus ini sangat merosot sekali dari apa yang diharapkan.
Retaknya masjid sebagai sarana ibadah beriringan dengan robohnya nilai-nilai Islam di kampus IAIN Imam Bonjol. Rusaknya dua simbol utama di kampus IAIN Imam Bonjol tidak begitu menjadi perhatian sebagian masyarakat dan pimpinan kampus. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Imambonjol pernah menggelar upacara peringatan satu tahun gempa Sumbar, pada 30 September 2010 lalu. Seperti yang dilansir www.suarakampus.com, upacara ini diiringi dengan pengibaran bendera hitam setengah tiang dan penaburan bunga sebagai simbol duka mahasiswa. Bukan itu saja, upacara ini juga salah satu bentuk sindiran terhadap IAIN. Karena setelah satu tahun gempa, belum begitu terlihat perbaikan di sektor pembangunan.
Manusia sebagai bagian dari alam sudah sepatutnya menjadi perhatian manusia lainnya. Apalagi manusia sebagai seorang pemimpin. Jika tidak bisa belajar kepada alam, maka alam itu yang akan mempelajarinya. Maka wajar saja jika umpatan keluar dari mulut alam itu sendiri. Pemilihan rektor tahun ini mudah-mudahan akan ”menghapus” simbol-simbol lama tersebut.(*)
"Komputer" Rusak
Ibarat sebuah komputer, kampus kita perlu discan dari virus yang merusak kinerja. Apalagi untuk sebuah usaha warnet. Peforma dan hardwarenya pun perlu diperhatikan. Selalu mengupdate software dan menjaga hardware merupakan jalan terbaik agar sistem komputer tetap bagus, dan pelangganpun tidak lari. Tak jauh beda dengan kampus kita.
Seseorang pasti akan panik jika komputernya terinfeksi virus. Virus begitu cepat menyebar dan bisa merusak sistem. Jika sistem sudah rusak tentu saja komputer akan berjalan lamban. Bahkan bisa menyebabkan beberapa program tidak akan bisa berfungsi. Fatalnya lagi, komputer akan mati tagak ketika kita menjalankan program atau mungkin sedang browsing. Bagi user atau pelanggan yang bisa mengontrol diri maka dia akan mencari solusi, mungkin bertanya pada operator. Tapi mereka yang emosi, umpatan dan caci maki akan keluar dari mulutnya, dan mungkin juga akan membanting komputer tersebut. Virus memang meresahkan.
Sepertinya komputer kita sedang diserang virus. Apalagi peforma yang kurang bagus membuat sistem dan pelayanan tidak lagi berjalan lancar. Seringkali program yang akan dijalankan terasa lamban bahkan ditolak oleh sistem. Banyak user yang menjalankan program untuk kepentingan akademik merasa kecewa dengan kualitas sistem komputer kita. Padahal basic komputer kita merupakan kualitas yang baik sebenarnya. Tapi karena pengelolaan yang kurang bagus maka seperti inilah keadaannya. Lihat dan cermatilah, banyak file yang corrupt.
Virus bisa menyerang dan merusak file apa saja di dalam komputer. Idealnya seorang “operator” harus tahu tentang seluk beluk dan istilah-istilah dalam dunia komputer. Jangan bekerja hanya sekedar panjawek tanyo apalagi lalai. Pemilik warnet bisa memecat anda.
Banyak hal yang harus kita pelajari dalam dunia “komputer” ini. Dalam istilah komputer, ada yang namanya bletcherous yang merupakan sesuatu yang tidak berfungsi akibat dari rancangan yang kurang bagus. Hal itu terjadi pada komputer kita, ada beberapa program yang tidak berfungsi dengan semestinya. Seperti aplikasi uang PKA yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan mahasiswa. Kebanyakan prakteknya adalah apa yang sudah diketahui banyak mahasiswa. Ini akibat dari rancangan yang tidak bagus. Persoalan jurusan Bahasa dan Sastra Inggris juga merupakan bletcherous. Jurusan tersebut juga tidak berfungsi lagi akibat rancangan yang kurang bagus. Akhirnya semua file dan user harus dipindahkan ke unit yang lain. Tapi karena handshake, yaitu mekanisme atau sinkronisasi dua program ini tidak berjalan dengan baik, maka proses transfer inipun agak lamban.
Seorang “operator” mestinya memiliki cookbook, yaitu buku-buku yang berisi panduan yang dapat dipakai untuk mengembangkan sebuah program komputer. Supaya komputer tidak seperti katak dalam tempurung. Merasa bangga dengan diri sendiri. Padahal di luar sana masih banyak yang lebih dari kita. Walaupun kita memiliki komputer yang terbesar di Sumatera Barat, namun besarnya ukuran tidak menjamin peforma yang bagus. Mungkin kita adalah komputer generasi kedua atau ketiga yang berukuran besar tapi kerjanya tidak seberapa. Dibandingkan dengan kondisi sekarang komputer tersebut tidak efektif lagi untuk digunakan. Sekarang orang telah beranjak kepada laptop, notebook dan iPad yang berukuran kecil tapi memiliki kinerja yang bagus. Jadi apakah kita akan bertahan dengan komputer jadul yang rusak ini.
Satu lagi yang harus kita perhatikan, yaitu port USB komputer. Apakah berjalan dengan baik atau tidak. Ini tentu saja berguna untuk take and give. Kita bisa saling tukar file (pikiran) dengan dengan komputer (kampus) yang ada di luar sana. Biasanya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sering memakai port USB untuk menyambungkan flash disk yang datang dari luar. Karena port USB rusak maka banyak flash disk yang tidak terdeteksi oleh sistem. Komputer kita tidak begitu respon terhadap apa yang masuk dari luar melalui UKM. Komputer sering kali menganggap itu sebagai malware atau sebuah piranti lunak yang diciptakan untuk menyusup atau merusak sistem. Atau mungkin akan membuang “space” di harddisk. Maklum, komputer jadul dengan kapasitas harddisk 64MB dengan ukuran sebesar lemari kain.
Sudah saatnya kita mengganti komputer rusak ini dengan yang lebih baik. Supaya pelanggan di warnet kita bertambah ramai. Saat browsing merekapun merasa asyik karena kita sudah memiliki akses yang cepat. Keluar dari warnet mereka tidak merasa kecewa, karena mendapatkan apa yang diinginkan. Uang yang keluarkanpun tidak sia-sia.
Rabu, 20 April 2011
Jika Aku Bisa Ngopi dengan Rektor
Jika Abdullah Khusairi berandai-andai menjadi seorang rektor, wajar saja. Itu sepadan dengan apa yang telah beliau dapatkan, ilmu yang telah beliau peroleh baik dari pendidikan formal maupun non formal. Gagasan yang beliau buat sangat menarik, jika itu berhasil, sungguh kita tidak akan enggan menjawab IAIN sebagai tempat kuliah kita seandainya ada yang menanya.
Bagi saya, sebagai seorang mahasiswa di kampus yang kita cintai ini, mungkin belum tepat waktunya untuk mengkhayal menjadi seorang rektor. Ilmu yang saya peroleh belum cukup untuk memimpin perguruan tinggi terkemuka dan terbesar di Sumatera Barat ini. Apalah jadinya kampus kita nantinya, mengerjakan suatu hal yang tidak berkompeten dibidangnya. Amburadul, hancur, tidak becus mungkin itu umpatan yang akan saya terima.
Namun untuk saat ini saya hanya ingin duduk dan bercengkrama bersama rektor kita, mungkin di ruang kerjanya atau mungkin di “Blok M”. Tapi tak mungkin, saya mengkhayal terlalu tinggi untuk mengajak seorang rektor duduk dan bercengkrama di “Blok M”, nanti kepanasan atau kehujanan. Ruang kerjanya mungkin pilihan yang tepat. Duduk diatas sofa empuk memegang remote control AC sambil menyetel suhu kesejukan ruangan, nikmat sekali rasanya. Tidak seperti proses perkuliahan yang kepanasan saat matahari bersinar terik, apalagi sekarang banyak yang kuliah didalam tenda pasca gempa ini. Apabila ada mahasiswa yang berjualan kipas mungkin dagangannya akan laris.
Bercengkrama dengan rektor dihidangi secangkir kopi hangat mungkin merupakan suatu pengalaman yang langka, barangkali hanya dialami para pejabat atau tamu penting, yang tidak penting jangan berharap. Saya rasa karyawanpun tidak banyak yang mempunyai pengalaman seperti itu, atau mungkin tidak ada yang mengalaminya. Mahasiswa? Gak tahulah, pernah apa tidak.
Jika itu terjadi dengan saya, mungkin saya akan mengabadikan moment ini. Saya akan merekamnya dengan handycam, kamera digital, atau mungkin saya akan mengundang seorang wartawan. Diruangannya saya akan mengobrol tentang kampus kita. Tentang birokrasi, pembangunan, kebutuhan mahasiswa dan lain sebagainya yang saya bisa. Disini saya tidak untuk menuntut kinerja rektor, sebab saya rasa rektor kita sudah berusaha dengan kemampuannya untuk memajukan kampus kita. Pergi kesana-sini, antar kota dalam provinsi, antar kota antar provinsi bahkan keluar negeri. Tapi saya tidak tahu untuk apa. Mungkin saya saja yang ketinggalan informasi, yang jelas kita jangan berburuk sangka, mungkin saja rektor kita mempromosikan kampus kita atau mencari bea siswa untuk kita, saya saja yang tidak tahu.
Rabu, 27 Januari 2010
Jika Aku Bisa Ngopi dengan Rektor
Bagi saya, sebagai seorang mahasiswa di kampus yang kita cintai ini, mungkin belum tepat waktunya untuk mengkhayal menjadi seorang rektor. Ilmu yang saya peroleh belum cukup untuk memimpin perguruan tinggi terkemuka dan terbesar di Sumatera Barat ini. Apalah jadinya kampus kita nantinya, mengerjakan suatu hal yang tidak berkompeten dibidangnya. Amburadul, hancur, tidak becus mungkin itu umpatan yang akan saya terima.
Namun untuk saat ini saya hanya ingin duduk dan bercengkrama bersama rektor kita, mungkin di ruang kerjanya atau mungkin di “Blok M”. Tapi tak mungkin, saya mengkhayal terlalu tinggi untuk mengajak seorang rektor duduk dan bercengkrama di “Blok M”, nanti kepanasan atau kehujanan. Ruang kerjanya mungkin pilihan yang tepat. Duduk diatas sofa empuk memegang remote control AC sambil menyetel suhu kesejukan ruangan, nikmat sekali rasanya. Tidak seperti proses perkuliahan yang kepanasan saat matahari bersinar terik, apalagi sekarang banyak yang kuliah didalam tenda pasca gempa ini. Apabila ada mahasiswa yang berjualan kipas mungkin dagangannya akan laris.
Bercengkrama dengan rektor dihidangi secangkir kopi hangat mungkin merupakan suatu pengalaman yang langka, barangkali hanya dialami para pejabat atau tamu penting, yang tidak penting jangan berharap. Saya rasa karyawanpun tidak banyak yang mempunyai pengalaman seperti itu, atau mungkin tidak ada yang mengalaminya. Mahasiswa? Gak tahulah, pernah apa tidak.
Jika itu terjadi dengan saya, mungkin saya akan mengabadikan moment ini. Saya akan merekamnya dengan handycam, kamera digital, atau mungkin saya akan mengundang seorang wartawan. Diruangannya saya akan mengobrol tentang kampus kita. Tentang birokrasi, pembangunan, kebutuhan mahasiswa dan lain sebagainya yang saya bisa. Disini saya tidak untuk menuntut kinerja rektor, sebab saya rasa rektor kita sudah berusaha dengan kemampuannya untuk memajukan kampus kita. Pergi kesana-sini, antar kota dalam provinsi, antar kota antar provinsi bahkan keluar negeri. Tapi saya tidak tahu untuk apa. Mungkin saya saja yang ketinggalan informasi, yang jelas kita jangan berburuk sangka, mungkin saja rektor kita mempromosikan kampus kita atau mencari bea siswa untuk kita, saya saja yang tidak tahu.
Senin, 22 September 2008
Potang Balimau
Namun ada sebagian banyak orang salah persepsi dalam mengaplikasikan penyambutan bulan Ramadhan ini yang sering kita dengar dengan istilah balimau atau potang balimau dalam istilah orang Payakumbuh. Dinegeri kita, yang berkembang itu adalah penyambutan tradisi atau budaya sedangkan penyambutan yang berdasarkan nilai-nilai ajaran islam sudar mulai memudar.
Mungkin sebagian kita ada yang tahu dan ada yang tidak tahu makna dan tujuan balimau, namun realita yang kita lihat adalah banyak orang yang salah mengartikan dan menyikapi balimau. Satu hari menjelang Ramadhan itu banyak dimanfaatkan oleh remaja untuk pergi berpasangan atau berkelompok dan menghabis waktu sampai menjelang maghrib atau malam bahkan ada yang pulang pagi. Ini bisa jadi menggambarkan bahwa mereka bersenang-senang dulu menjelang kedatangan Ramadhan, bukan untuk mensucikan diri malah mengotori diri.
Disini jelas bahwa nilai ajaran Islam dalam hal penyambutan bulan suci Ramadhan sudah melenceng jauh, lalu bagaimana dengan diri kita? Apakah kita sudah mensucikan diri untuk menyambut Ramadhan kemaren? Dan apa sumbangan pemikiran atau nasehat yang telah kita berikan kepada mereka yang sudah lari.
Jumat, 06 Juni 2008
Merdekakah Kita

Meskipun status kita (Indonesia) sudah terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang, tapi jangan disangka kita sudah merdeka seutuhnya. Secara fisik memang tidak ada lagi perlakuan atau tindakan seperti masa penjajahan, ya…… boleh dikatakan secara fisik kita sudah merdeka. Namun, tampa kita sadari kita masih dalam jajahan bangsa lain. Penjajahan yang tak menumpahkan darah, tak memerlukan tentara dan tak memerlukan senjata, mereka menjajah pikiran dan budaya kita orang Indonesia, mereka juga menjajah mental kita.
Kenapa dulu banyak ilmuwan dan sastrawan yang dilahirkan negeri ini, kita tidak perlu menyebutkan namanya satu persatu, yang jelas mereka mampu berjalan diatas bara, dibawa tekanan Belanda mereka mampu berkarya. Mungkin kita berfikir salah satu motivasi mereka ialah ingin bebas dari tekanan supaya kita tidak dianggap remeh bangsa lain, mungkin itu benar. Tapi kita heran, mengapa setalah kita merdeka tidak ada lagi yang seperti mereka, minim sekali penerus. Kita terlalu gembira dengan kemerdekaan, terlalu senang dengan “kebebasan” sehingga lupa apa arti sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan kita adalah sebuah kemerdekaan simbolis.
Sebagai orang timur, kita (Indonesia) mempunyai nilai lebih dibandingkan barat dalam tata krama dan kesopanan, tapi itu sudah pudar dalam kehidupan kita. Sebagai contoh sederhana dalam segi berpakaian banyak generasi bangsa ini lebih suka mempertontonkan keindahan tubuh mereka, bahkan merasa bangga dengan apa yang dipakainya. Yang lebih parah lagi para orang tua membiarkan anak gadisnya berpakaian yang telanjang. Ini merupakan satu tanda kecil bahwa moral negeri ini sudah pudar dirasuki oleh budaya-budaya asing.
kita semua pasti bertanya apa penyebab semua ini, jika ada orang Indonesia yang tidak memikirkan sebab dari lunturnya moral bangsa ini, berarti rasa nasionalisme, rasa memiliki, rasa kepeduliannya terhadap bangsa ini sudah hilang. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah pengaruh televisi yang menayangkan adegan-adegan yang tidak mempunyai nilai pendidikan. Kita kenal Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) tapi apa yang ditayangkannya sangat jauh dari konsep pendidikan.
Pemikiran dan kebudayaan kita telah dirasuki oleh barat, kecintaan terhadap bangsa sendiri sudah hilang. Kita lebih senang mengadopsi dan suka dengan budaya-budaya barat. Jati diri kita sebagai orang Indonesia sudah hilang. Kasihan para pejuang bangsa ini yang susah payah membangun negeri ini, namun kita meruntuhkannya kembali. Kepada orang tua kami, bimbinglah generasi bangsa ini yang sudah patut kita tangisi. Untuk generasi bangsa ini, jangan pernah layu, jangan pernah putus asa, terus maju untuk membangun negeri ini, kita belum merdeka, kita masih terjajah.
Sebuah Catatan Kecil
Kehidupan disana memang berbeda dengan diPadang. Tapi ada suatu perbedaan yang saya tidak tahu bagaimana menilainya. Malam sekitar jam 09.00 kami diajak kekampus AKA Bogor. Saya tanya mau ngapain, lalu dia jawab mau main bola. Saya membayangkan main bola dilapangan hijau dengan penerangan lampu yang banyak, wah.... mantap sekali fasilitas dikampus ini. Namun setelah sampai ditujuan ternyata dugaan saya salah, mereka main bola disuatu ruangan lepas, saya tidak tahu apakah itu GOR, GSG atau segala macam. Saya sedikit kaget, mereka begitu mudah untuk menggunakan ruangan tersebut hanya sekedar untuk main bola, pada main bola bisa dilakukan sore hari, apalagi sebagian dari mereka yang main bukan mahasiswa.
Pembaca mungkin bertanya mengapa saya kaget. Karena saya tidak menemui hal yang demikian dikampus saya yang katanya Islami. Coba pembaca berjalan pada malam hari dikampus pembaca akan menemui sekelompok orang yang berpakaian merah berbaris dilapangan gelap dengan sedikit penerangan melakukan kegiatan pokok (buka main bola) mereka sebagai salahsatu UKM. sedangkan didepan mereka berdiri gedung terang dan mega yang diberi nama Gedung Serba Guna. Ini yang membuat saya kaget, mengapa tidak menggunakan fasilitas yang ada. Saya tidak tahu apakah orang-orang yang berseragam merah tadi tidak meminta izin untuk menggunakan gedung tersebut atau tidak mendapatkan izin menggunakan fasilitas yang ada.
Banyak fasilitas dikampus yang katanya Islami ini yang tidak bisa digunakan. Gedung Auditorium yang dulu merupakan tempat kegiatan pokok yang berseragam merah tadi dan ekspo setiap UKM. Tapi sekarang penulis tidak tahu kegunaan gedung tersebut. Mobil kampus yang sedikit sulit untuk dipinjamkan seperti yang dialami oleh salah satu jurusan untuk keperluan Studi Banding namun akhirnya menggunakan angkutan umum juga. Saya berfikir untuk apa semua ini disediakan kalau bukan untuk digunakan. Bagaimana Pembaca menilainya ?